Showing posts with label Short Story. Show all posts
Showing posts with label Short Story. Show all posts

January 7, 2013

Dinamika Cinta Saat Ini

Greeting Text



Hello bloca..
Apa kabar? Masih menunggu mantan yang tak kunjung minta balikan kah? 
Seperti biasa, cuma mau nulis sepatah duapatah kalimat aja kok, gak banyak-banyak.. *jangan dipercaya*

Kalau aku tanya kamu, 'Apa sih bahagia itu?'
Pasti ada banyak jawaban dan nyaris sama. Walau aku tahu 'kadar kebahagiaan seseorang itu berbeda-beda', tapi gak semuanya beda kok, motif kebahagiaannya sama. Gak ada yang gak mau bahagia, semua orang pasti ingin bahagia, selalu mencari kebahagiaan yang sesuai dengan kadarnya kepuasan secara lahiriah ataupun batiniah.

Balik lagi deh kepertanyaan awal, 'Apa sih bahagia itu?'
Aku akan menjawabnya dengan pernyataan sederhana dari beberapa orang, 'ucapan "hai" yang keluar dari bibir seseorang yang dicintainya' misalnya. Atau, 'saat orang yang dirindukan juga merindukan kita' misalnya. Atau 'saat aku dan kamu menjadi kita' misalnya. Ya, apapun pernyataan bahagiamu disini.. itulah kadar kebahagiaan yang kamu rasakan. Indah dan nyaris diinginkan oleh semua orang.. 

Akan tetapi, ada beberapa orang yang rela membuat orang lain yang dicintainya bahagia tanpa memikirkan akibat dari perbuatannya. Ketika seseorang itu ditanya, 'Memangnya kamu bahagia melihat dia bersama orang lain?'. Jawabannya sederhana tapi perlu keikhlasan yang mendalam ketika mengucapkannya agar tidak menyesal nantinya. Seperti pernyataan 'Aku bahagia kok kalau dia bahagia' misalnya. Akan tetapi, logikanya gini 'Untuk apa kita merelakan kebahagiaan kita untuk orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain dan orang lain itu bukanlah kita?'. Itukah cinta menurut deskripsimu? Jika itu cinta, seharusnya kamu memperjuangkan apa yang membuatmu bahagia dan berusaha membuat orang tersebut bahagia. Bukan sebaliknya..

Lalu ada beberapa orang yang rela menunggu seseorang untuk mendapatkan kadar bahagia yang ada di pikirannya. Lagi dan lagi, dia menunggu seseorang yang tidak benar-benar ingin membahagiakannya. Bahkan ia tidak pernah menganggapnya ada. Lantas untuk apa kamu masih menunggu bahagiamu dengan orang yang tak berusaha membuatmu bahagia? Itu hanya membuang-buang waktumu, sayang. Apakah kamu ingin mengemis kebahagiaan dengan orang yang sudah jelas-jelas tidak menganggapmu ada, begitu? Kamu tau bodoh? Itulah kamu saat itu. Bukankah cinta itu lebih banyak bahagia daripada lebih banyak kecewa? Lantas ketika kamu kecewa, mengapa kamu masih menunggu dan mempertahankannya? Bodoh.. 

Sadarlah sayang..
Ada seseorang yang tak pernah kamu lihat lebih sering menganggapmu, menyayangimu bahkan mungkin rela berjuang untukmu. Tidakkah kamu mencoba untuk membuka hatimu untuk orang lain? Untuk apa kamu mengorbankan segalanya sedangkan ia tidak pernah berusaha membuatmu 'sedikit' tersenyum bahagia? Dia sudah bahagia dengan dunianya, dengan pilihannya, dengan orang lain dan orang lain itu bukan kamu. Tolonglah, hargai dunia dan dirimu sendiri.. Jangan mempersulit keadaan dengan alasan yang membosankan seperti 'Aku susah move on dari dia, dia cinta sejati aku'. Logikanya gini, kamu tau dari mana kalau dia cinta sejati kamu? Kalau kamu dipisahkan sama Tuhan saat bersama dia, itu artinya Tuhan ingin tunjukkan yang lebih baik daripada dia. Jangan buang waktumu hanya untuk satu orang yang bisa mengubahmu dengan waktu yang singkat..

Dan lucunya. menurut orang lain yang mengetahui hal tersebut mengatakan bahwa itu adalah sebuah duka tapi dia katakan hal yang berbeda. Baginya itu cinta.. cinta yg membuatnya terus terluka.Cinta yang buta.

Aku tersenyum geli, menelusuri setiap kata yang aku tuliskan.. menerkanya dan kembali meneruskan kesibukanku semula. Selamat malam, bloca..

August 12, 2012

Untuk Sahabat


Hello bloca..
Well, ini lagu favorite gue dari masa SMP dan sekarang terkenang banget untuk masa SMA. Sekarang kita uda menempuh jalan masing-masing, kuliah di tempat yang berbeda dan inilah yang gue rasa. Lewat lagu 'Edcoustic - Sebiru Hari Ini' untuk sahabat seperjuangan di masa SMA 'Saung'. Terima kasih sahabat..

Sebiru hari ini, birunya bagai langit terang benderang
Sebiru hati kita, bersama di sini

Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah

reff:
Bukankah hati kita telah lama menyatu
Dalam tali kisah persahabatan Illahi
Pegang erat tangan kita terakhir kalinya
Hapus air mata meski kita kan terpisah

Selamat jalan teman
Tetaplah berjuang
Semoga kita bertemu kembali
Kenang masa indah kita
Sebiru hari ini

Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah

back to reff 2x

Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah

September 23, 2011

Salah Pilih


oleh: Dian Meilyani


          Waktu menunjukkan tepat pukul 12.00 siang. Perut para siswa sudah pada menjerit minta diisi, sementara ibu Marliana masih betah cuap-cuap di depan kelas. Ada siswa yang masih memperhatikan, tetapi lebih banyak di antara mereka yang pikirannya sudah melalangbuana, membayangkan lezatnya bakso dan segarnya es jus di kantin sekolah.
          Delia adalah salah satu siswi yang tidak konsentrasi belajar. Bukan karena lapar, haus atau ngantuk, tetapi ia sedang bingung. Dua lembar undangan ulang tahun tergeletak di atas mejanya. Yang satu, undangan ulang tahun sahabatnya, Erina. Yang lainnya adalah undangan ulang tahun Vency, siswi terpopuler di sekolah. Delia ingin pergi ke pesta Erina dan Vency. Tetapi masalahnya adalah jam dan hari kedua undangan itu sama. Ia bingung harus pergi ke pesta yang mana akhir pekan ini?
          Erina adalah sahabat Delia sejak kecil. Ia sahabat yang baik dan setia. Mereka sudah seperti saudara, saking dekatnya. Mereka saling berbagi dan saling mengasihi. Kalau Delia sedih, Erina selalu menghibur. Erina selalu ada di sisi Delia kala suka maupun duka. Bersama Erina, Delia merasa nyaman dan bahagia. Tidak ada sahabat yang paling baik di dunia ini selain Erina.
          Delia ingin pergi ke pesta ulang tahun Erina. Ia tidak mau membuat Erina sedih dan kecewa. Akankah ia memilih pergi ke pesta sahabatnya ini?
***
          Kelas sudah sepi. Semua siswa pada menyerbu kantin, gara-gara ibu Marliana tadi menyita sepuluh menit waktu makan siang mereka. Di kelas hanya ada Delia yang masih bingung memilih ke pesta ulang tahun siapa ia harus pergi malam minggu nanti?
          Betapa inginnya Delia berteman dengan Vency, cewek terpopuler di sekolah itu. Vency adalah gadis yang cantik dan kaya. Ayahnya adalah pemilik sekolah itu. Cowok-cowok di sekolah, maupun di luar sekolah pada ngejar-ngejar dia. Ia juga pandai bergaul sehingga banyak yang menjadi temannya.
          Delia ingin popoler juga seperti Vency. Mungkin dengan menjadi temannya, dia bisa kecipratan kepopuleran Vency. Tetapi Delia adalah anak yang pemalu dan tidak pandai bergaul. Temannya hanya sedikit dan termasuk dalam kelompok orang-orang cupu di sekolah.
          Maka, ketika menemukan undangan dari Vency di lokernya, ia kegirangan. Di plastik undangan itu tertulis “Untuk Delia”. Jadi itu bukan sekedar terselip atau salah taruh, tapi memang benar-benar untuknya. Bahkan, untuk memastikan, Delia pun bertanya pada Vency apakah undangan itu untuknya?
          “Ya, iyalah, Del. Emang lo nggak bisa baca, ya? Jelas-jelas di plastiknya gue tulis nama lo. Datang, ya. Oh, ya, karena temanya pajamas party, lo harus pake baju tidur. Gue kasih tau ini sebelumnya supaya lo nggak salah kostum, kan lo malu sendiri kalo saltum. Dandan yang cantik, ya!” kata Vency.
          Bagi Delia, adalah suatu kehormatan bisa diundang oleh Vency. Jarang-jarang, loh! Akankah ia memilih ke pesta cewek populer ini?
***
          Akhirnya, setelah berpikir cukup lama, dengan menghabiskan jam pelajaran matematika yang memusingkan kepala, Delia membuat keputusan. Ia akan pergi ke pesta ulang tahun Vency. Menurutnya, kalo ke pesta Erina kan sudah sering, tetapi kalo ke pesta Vency, kapan lagi…? Sekali seumur hidup, bo!
          “Rin…,” panggil Delia pada Erina di pintu gerbang sekolah.
          “Ada apa, Del?”
          “Ehm… kayaknya aku nggak bisa datang ke ulang tahunmu sabtu ini. Aku… aku ada acara lain. Maaf, ya.”
          “Kamu pasti mau ke pesta ulang tahun Vency,”
          “Eh…em… i…. iya. Abisnya, ini pertama kalinya Vency ngundang aku. Jarang-jarang, kan, dia ngundang orang-orang yang nggak terkenal seperti kita. Rin, Kamu nggak marah, kan? Maaf, ya… aku janji, kalo sempat, aku pasti ke rumahmu.”
          “It’s ok, no problem. Tapi apa kamu yakin akan ke sana? Di sana kan orang-orang terkenal semua. Kalo kamu dicuekin gimana?”
          “Aku akan mencoba untuk menyesuaikan diri.”
          “Hm… ya sudah, have a nice party.”
          “Makasih, ya, Rin. Kamu emang sahabatku yang paling pengertian,” Delia memeluk Erina dan bergegas pulang.
          Sebenarnya Erina sangat kecewa karena sahabatnya lebih memilih ke pesta ulang tahun orang lain daripada ke pestanya sendiri. Padahal ia berharap, di hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas ini, ia bisa memberikan first cake (potongan kue pertama) kepada sahabatnya ini.
***
          Ruangan itu cukup gelap dengan cahaya remang lampu disko berkelap-kelip di sana-sini. Suara musik keras memekakan telinga. Beberapa orang menari mengikuti irama musik itu, dan yang lainnya asyik ngobrol dan menggosip sambil minum-minum.
          Itulah suasana pesta ulang tahun Vency. Dalam sekejap rumah gede Vency di sulap menjadi diskotik. Delia hanya celingukan seperti orang bodoh di tempat itu. Bajunya juga lain dari pada yang lain. Semua berpakaian serba terbuka atas bawah, sementara dia memakai baju tidur pink motif bunga-bunga dengan boneka teddy bear kecil dipelukannya.
          Jelas-jelas kata Vency tadi siang, tema pestanya adalah pajamas party, tapi kenapa hanya dia saja yang memakai baju tidur? Apakah ia salah dengar, tadi? Tidak mungkin! Atau, apakah dia salah masuk rumah? Saat ia beranjak pergi, namanya dipanggil.
          “Hai, Delia. Lo mau ke mana? Pesta baru aja di mulai, kok lo udah buru-buru mau pulang?” Tanya Vency sambil menahan tawa.
          “Ven, gimana, sih? Tadi siang kamu bilang kalo aku harus pakai baju tidur karena tema pestamu pajamas party, kok sekarang cuma aku yang pakai baju tidur?”
          “Oh, jadi lo kira lo saltum gitu? Nggak lagi, Del. Ini baru pesta awal. Ntar lagi mereka ganti baju tidur, kok. Nyantai aja, kali.”
          Vency menarik tangan Delia ke meja di sudut ruangan, lalu memberinya minuman.
          “Nyantai aja, Del. Ntar, kalo cowok-cowok itu sudah pulang, baru kita mulai pajamas partynya. Sambil nunggu, lo minum aja dulu, nih,” Vency menyodorkan segelas minuman keras.
          Delia meminumnya sedikit dan merasa mual, “Minuman apa ini, Ven? Kok rasanya aneh?”
          “Itu minuman dari luar negeri. Jelas aneh, lo kan baru pertama kali minum itu. Lo duduk di sini aja dulu, gue mau ke tempat teman-teman gue dulu. Atau mungkin lo mau ikutan nge-dance, juga boleh. Nikmati aja pestanya,” kata Vency, lalu ia pergi sambil cekikikan.
          Vency mengajak Delia untuk menikmati pesta ini, tetapi Delia sama sekali tidak nyaman dengan semua ini. Ia merasa dirinya seperti dikerjai oleh Vency. Vency sepertinya sengaja untuk mempermalukannya. Buktinya, semua orang menertawakannya dan sudah dua jam pesta berlalu, belum ada tanda-tanda dimulainya pajamas party. Ia hanya duduk di sudut ruangan, seorang diri. Ia membayangkan pesta di rumah Erina, pasti sangat menyenangkan. Andai waktu bisa di ulangi, ia tidak akan ke pestanya Vency. Dalam hatinya, muncul rasa penyesalan karena telah memilih untuk pergi ke pesta ini.
          Delia berdiri dan berjalan ke toilet. Belum sempat kakinya melewati pintu toilet, ia mendengar beberapa orang membicarakan dirinya sambil cekikikan. Suatu percakapan yang menyakitkan hati.
          “Wah, sukses lo ngerjain dia, Ven. Ide lo emang benar-benar brilian,” puji Devi sambil memoleskan lipstick di bibir seksinya.
          “Hahaha… percaya aja dia kita suruh pakai baju tidur,” Bella tertawa.
          “Jadi gue menang, kan?” ucap Vency bangga.
          “Yeah… tapi duitnya ntar dulu, ya. Lagi kanker nih!” kata Bella.
          “Ye… lagi bokek berani ngusulin taruhan,” omel Devi.
          “Tapi, nggak apa-apa, deh. Kan, biar ada hiburan di pesta gue.”
          “Ngomong-ngomong, dia itu temannya Erina yang sok pintar itu, kan?” tanya Devi.
           Kata-kata Devi menjadi pisau tajam dan menancap tepat di hati Delia.
          “Sok pintar? Erina memang pintar, tapi ia tidak sombong seperti kalian!” Jerit batin Delia.
          “Iya, si cupu yang pelit itu, yang nggak pernah kasih kita jawaban waktu ulangan. Dia kan ulang tahun juga hari ini. Pasti dia sedih banget, karena temannya lebih memilih ke pesta gue dan dikerjain sama gue. Hahaha…”
          Tak terasa, air mata Delia mengalir dan bergulir di pipi. Ia berlari keluar dan tanpa sengaja bertubrukan dengan seorang cewek.
          “Aduh… mata lo di taruh di mana, sih?! Lihat, nih, minuman gue tumpah di baju gue. Baju gue ini mahal, tau!” omel cewek itu.
          “Ada apa, sih, Mel?” tanya teman cewek itu, kemudian teman-teman lainnya berdatangan untuk melihat apa yang terjadi.
          “Ini, cewek aneh yang salah kostum, numpahin minuman ke baju gue.”
          “Idih, ngapain juga, sih, cewek kampungan kayak lo datang ke pesta elit begini? Pake baju tidur, lagi! Nggak malu, lo? Kalo gue jadi elo, pasti gue sudah pulang dan nggak akan berani nongolin muka gue, karena gue salah kostum. Yah, tapi gue maklumlah, orang kampung dan cupu kayak lo urat malunya sudah putus alias nggak tahu malu. Mending sekarang lo pulang, daripada ngerusak pesta ini,” kata teman cewek tadi.
          Delia benar-benar sudah tidak bisa menahan dirinya untuk pergi dari pesta itu. Ia malu sekali, apalagi setelah itu, semua orang menertawakan dan mengejeknya. Ia berlari keluar dari rumah itu. Berlari dan terus berlari…
          Betapa menyesalnya Delia karena telah salah memilih. Seharusnya sekarang ia sedang bersenang-senang dengan Erina dan teman-teman lainnya. Biarpun mereka di cap sebagai kelompok orang cupu, tetapi dia merasa lebih nyaman berada di antara mereka, daripada dengan kumpulan orang-orang terkenal yang suka menggosip, menghina dan mengerjai orang.
          Seharusnya dia tidak meninggalkan pesta Erina, sahabat sejatinya yang jelas-jelas menyayangi dirinya dan tidak mungkin mengerjainya seperti ini. Seharusnya ia tidak memilih pergi ke pesta hancur dan makan hati seperti ini. Delia salah pilih. Namun apa daya, memang penyesalan selalu datang di akhir masa.
THE END

Nama: Dian Meilyani
Blog  : ann-fdlove.blogspot.com 

Sahabatku Kekasihku


oleh: Mentari Senja


Masih  terukir  luka  dan  duka  saat  kau  dihadapannya,  bukan  seperti  dirimu  saat  bersamaku. Engkau begitu angkuh dan sombongnya tanpa pedulikan aku yang ada didepanmu... tau kah kau bahwa kau tlah tancapkan duri baru lagi buatku, kau gores luka yang meluka...kau tabur garam hingga perih kurasa. Aku tau kau juga tak menginginkan ini, aku juga mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi aku tetap saja sakit atas kemengertianku akan dirimu..!! Airmata kedukaan terus meliputiku, melihat engkau masih dengannya... ku tau hatimu hanya untukku, tapi ku sadar ragamu bukan milikku. Bagaimana bisa kau permainkan aku dengan perasaan ini yang ku tau sebelumnya tak begini.
    Engkau sahabatku juga kekasihku, tapi kau milik orang lain. Hidup bersama orang lain walau hatimu ada dihatiku, aku menderita kau juga...!!! Sampai kapan takdir bisa mempersatukan kita. Andai saja dulu kau bisa lebih tegas mungkin jalannya tak akan sesulit ini...
    Sahabatku yang ku cinta, engkau hadir dengan cinta saat kau tlah memutuskan bersama yang lain. Engkau berikan sayang kala ku tau pasti tak mungkin tuk disatukan. Hingga sekarang saat kau tlah termiliki orang lain kau tetap curahkan sayang itu, adilkah ini,aku mencintaimu sangat, aku menyayangimu lebih dari apapun. Ini semua tlah direncanakan oleh Tuhan. Tuhan memberikan anugerah cinta yang indah buatku untukmu, walau cinta itu terlarang.
    Sekarang ku jalani cinta yang merumitkan ini, cinta segitiga antara aku,kau dan dia.
Aku mencintaimu saat kau tlah memutuskan untuk hidup dengan dia, dan kau juga berikan cinta itu. Tapi kau tetap bersamanya walau kau mencintaiku..aku terluka, kau menyesal dan dia merana.. semua merasa sakit.
    “ de, mas tau kamu kecewa. Mas juga tau kamu sakit karena mas. Tapi mas juga nda tau harus bagaimana.”
    “ iya mas, ade ngerti. Ade Cuma butuh waktu buat menenangkan diri “
    Semua sakit yang kurasa saat itu hanya kupendam saja, aku tak mau akan ada penyesalan dikemudian hari karena aku salah mengungkapkan kekecewaan. Aku begitu menyayanginya dan aku tak mau kehilangannya.
    “ ya sudah, mas ngerti. Mas ga mau mengganggu ade dulu. Tapi satu yang harus ade tau, bahwa mas sangat menyayangimu lebih dari istri mas. Mas ingin hidup bersama ade membina keluarga yang bahagia sampai ajal menjemput mas. Mas akan berusaha memperjuangkan itu selama ade masih mengharapkan mas.”
    Begitu banyak harapan dan janji yang kau berikan padaku, ku tau rumah tanggamu tak harmonis pertengkaran menghantuimu setiap hari. Hingga kau mencurahkan kepadaku. Tapi aku sadar bahwa kita tlah slah, seharusnya kau berusaha mencintai istrimu bukan diriku.
    “terima kasih mas, semoga semuanya berjalan lancar, dan apapun yang terjadi itu yang terbaik untuk kita semua.”
    “mudah-mudahan de, mas akan terus berusaha”
    Dan kurelakan kau untuk bersamanya, diiringi air mata yang terus berderai ku langkahkan kaki untuk mundur sejenak, ku biarkan kau selesaikan masalahmu dengan dia. Biarlah aku disini merengguk kesedihan dikesunyian malam bersama bintang.
    Hari ini, detik ini kuputuskan menunggumu, menunggumu menjemputku disini di kesunyian hari. Walau akan terus kurasakan sakit, duka dan luka tapi kan kunikamati itu semua. Demi kamu....Aku mencintaimu sahabatku kekasihku. 

September 22, 2011

Pidato Habibie Saat Peringatan Hari Pancasila


Pidato mantan Presiden B.J. Habibie dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni, mendapat apresiasi luar biasa. Saat berpidato di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua MPR Taufiq Kiemas, sejumlah mantan Wakil Presiden, serta pejabat lainnya di Gedung MPR, Rabu, 1 Juni 2011, Habibie membacakan pidatonya dengan berapi-api. Hadirin pun tampak terpukau.
Inilah isi pidato lengkap Habibie itu.
Reaktualisasi Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Yth. Presiden RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono
Yth. Presiden ke-5, Ibu Megawati Soekarnoputri
Yth. Para mantan Wakil Presiden
Yth. Pimpinan MPR dan Lembaga Tinggi Negara lainnya
Bapak-bapak dan Ibu-ibu para anggota MPR yang saya hormati
Serta seluruh rakyat Indonesia yang saya cintai,
Assalamu ‘alaikum wr wb, salam sejahtera untuk kita semua.
Hari ini tanggal 1 Juni 2011, enam puluh enam tahun lalu, tepatnya 1 Juni 1945, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno menyampaikan pandangannya tentang fondasi dasar Indonesia Merdeka yang beliau sebut dengan istilah Pancasila sebagai philosofische grondslag (dasar filosofis) atau sebagai weltanschauung (pandangan hidup) bagi Indonesia Merdeka.
Selama enam puluh enam tahun perjalanan bangsa, Pancasila telah mengalami berbagai batu ujian dan dinamika sejarah sistem politik, sejak jaman demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, era Orde Baru hingga demokrasi multipartai di era reformasi saat ini. Di setiap jaman, Pancasila harus melewati alur dialektika peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai dasar filosofis bangsa Indonesia yang terus berkembang dan tak pernah berhenti di satu titik terminal sejarah.
Sejak 1998, kita memasuki era reformasi. Di satu sisi, kita menyambut gembira munculnya fajar reformasi yang diikuti gelombang demokratisasi di berbagai bidang. Namun bersamaan dengan kemajuan kehidupan demokrasi tersebut, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: Di manakah Pancasila kini berada?
Pertanyaan ini penting dikemukakan karena sejak reformasi 1998, Pancasila seolah-olah tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang tak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika reformasi. Pancasila seolah hilang dari memori kolektif bangsa. Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dan dibahas baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan. Pancasila seperti tersandar di sebuah lorong sunyi justru di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik.
Mengapa hal itu terjadi? Mengapa seolah kita melupakan Pancasila?
Para hadirin yang berbahagia,
Ada sejumlah penjelasan, mengapa Pancasila seolah “lenyap” dari kehidupan kita. Pertama, situasi dan lingkungan kehidupan bangsa yang telah berubah baik di tingkat domestik, regional maupun global. Situasi dan lingkungan kehidupan bangsa pada tahun 1945 — 66 tahun yang lalu — telah mengalami perubahan yang amat nyata pada saat ini, dan akan terus berubah pada masa yang akan datang. Beberapa perubahan yang kita alami antara lain: (1) terjadinya proses globalisasi dalam segala aspeknya; (2) perkembangan gagasan hak asasi manusia (HAM) yang tidak diimbagi dengan kewajiban asasi manusia (KAM); (3) lonjakan pemanfaatan teknologi informasi oleh masyarakat, di mana informasi menjadi kekuatan yang amat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, tapi juga yang rentan terhadap “manipulasi” informasi dengan segala dampaknya.
Ketiga perubahan tersebut telah mendorong terjadinya pergeseran nilai yang dialami bangsa Indonesia, sebagaimana terlihat dalam pola hidup masyarakat pada umumnya, termasuk dalam corak perilaku kehidupan politik dan ekonomi yang terjadi saat ini. Dengan terjadinya perubahan tersebut diperlukan reaktualisasi nilai-nilai pancasila agar dapat dijadikan acuan bagi bangsa Indonesia dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi saat ini dan yang akan datang, baik persoalan yang datang dari dalam maupun dari luar. Kebelum-berhasilan kita melakukan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila tersebut menyebabkan keterasingan Pancasila dari kehidupan nyata bangsa Indonesia.
Kedua, terjadinya euphoria reformasi sebagai akibat dari traumatisnya masyarakat terhadap penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu yang mengatasnamakan Pancasila. Semangat generasi reformasi untuk menanggalkan segala hal yang dipahaminya sebagai bagian dari masa lalu dan menggantinya dengan sesuatu yang baru, berimplikasi pada munculnya ‘amnesia nasional’ tentang pentingnya kehadiran Pancasila sebagai grundnorm (norma dasar) yang mampu menjadi payung kebangsaan yang menaungi seluruh warga yang beragam suku bangsa, adat istiadat, budaya, bahasa, agama dan afiliasi politik. Memang, secara formal Pancasila diakui sebagai dasar negara, tetapi tidak dijadikan pilar dalam membangun bangsa yang penuh problematika saat ini.
Sebagai ilustrasi misalnya, penolakan terhadap segala hal yang berhubungan dengan Orde Baru, menjadi penyebab mengapa Pancasila kini absen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Harus diakui, di masa lalu memang terjadi mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis, terstruktur dan massif yang tidak jarang kemudian menjadi senjata ideologis untuk mengelompokkan mereka yang tak sepaham dengan pemerintah sebagai “tidak Pancasilais” atau “anti Pancasila” . Pancasila diposisikan sebagai alat penguasa melalui monopoli pemaknaan dan penafsiran Pancasila yang digunakan untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan. Akibatnya, ketika terjadi pergantian rezim di era reformasi, muncullah demistifikasi dan dekonstruksi Pancasila yang dianggapnya sebagai simbol, sebagai ikon dan instrumen politik rezim sebelumnya. Pancasila ikut dipersalahkan karena dianggap menjadi ornamen sistem politik yang represif dan bersifat monolitik sehingga membekas sebagai trauma sejarah yang harus dilupakan.
Pengaitan Pancasila dengan sebuah rezim pemerintahan tententu, menurut saya, merupakan kesalahan mendasar. Pancasila bukan milik sebuah era atau ornamen kekuasaan pemerintahan pada masa tertentu. Pancasila juga bukan representasi sekelompok orang, golongan atau orde tertentu. Pancasila adalah dasar negara yang akan menjadi pilar penyangga bangunan arsitektural yang bernama Indonesia. Sepanjang Indonesia masih ada, Pancasila akan menyertai perjalanannya. Rezim pemerintahan akan berganti setiap waktu dan akan pergi menjadi masa lalu, akan tetapi dasar negara akan tetap ada dan tak akan menyertai kepergian sebuah era pemerintahan!
Para hadirin yang berbahagia,
Pada refleksi Pancasila 1 Juni 2011 saat ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang sudah dikemukakan banyak kalangan yakni perlunya kita melakukan reaktualisasi, restorasi atau revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka menghadapi berbagai permasalahan bangsa masa kini dan masa datang. Problema kebangsaan yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, regional maupun global, memerlukan solusi yang tepat, terencana dan terarah dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pemandu arah menuju hari esok Indonesia yang lebih baik.
Oleh karena Pancasila tak terkait dengan sebuah era pemerintahan, termasuk Orde Lama, Orde Baru dan orde manapun, maka Pancasila seharusnya terus menerus diaktualisasikan dan menjadi jati diri bangsa yang akan mengilhami setiap perilaku kebangsaan dan kenegaraan, dari waktu ke waktu. Tanpa aktualisasi nilai-nilai dasar negara, kita akan kehilangan arah perjalanan bangsa dalam memasuki era globalisasi di berbagai bidang yang kian kompleks dan rumit.
Reformasi dan demokratisasi di segala bidang akan menemukan arah yang tepat manakala kita menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh toleransi di tengah keberagaman bangsa yang majemuk ini. Reaktualisasi Pancasila semakin menemukan relevansinya di tengah menguatnya paham radikalisme, fanatisme kelompok dan kekerasan yang mengatasnamakan agama yang kembali marak beberapa waktu terakhir ini. Saat infrastruktur demokrasi terus dikonsolidasikan, sikap intoleransi dan kecenderungan mempergunakan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan, apalagi mengatasnamakan agama, menjadi kontraproduktif bagi perjalanan bangsa yang multikultural ini. Fenomena fanatisme kelompok, penolakan terhadap kemajemukan dan tindakan teror kekerasan tersebut menunjukkan bahwa obsesi membangun budaya demokrasi yang beradab, etis dan eksotis serta menjunjung tinggi keberagaman dan menghargai perbedaan masih jauh dari kenyataan.
Krisis ini terjadi karena luruhnya kesadaran akan keragaman dan hilangnya ruang publik sebagai ajang negosiasi dan ruang pertukaran komunikasi bersama atas dasar solidaritas warganegara. Demokrasi kemudian hanya menjadi jalur antara bagi hadirnya pengukuhan egoisme kelompok dan partisipasi politik atas nama pengedepanan politik komunal dan pengabaian terhadap hak-hak sipil warganegara serta pelecehan terhadap supremasi hukum.
Dalam perspektif itulah, reaktualisasi Pancasila diperlukan untuk memperkuat paham kebangsaan kita yang majemuk dan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan akan dibawa ke mana biduk peradaban bangsa ini berlayar di tengah lautan zaman yang penuh tantangan dan ketidakpastian? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu menyegarkan kembali pemahaman kita terhadap Pancasila dan dalam waktu yang bersamaan, kita melepaskan Pancasila dari stigma lama yang penuh mistis bahwa Pancasila itu sakti, keramat dan sakral, yang justru membuatnya teraleinasi dari keseharian hidup warga dalam berbangsa dan bernegara. Sebagai sebuah tata nilai luhur (noble values), Pancasila perlu diaktualisasikan dalam tataran praksis yang lebih ‘membumi’ sehingga mudah diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan.
Para hadirin yang berbahagia,
Sebagai ilustrasi misalnya, kalau sila kelima Pancasila mengamanatkan terpenuhinya “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, bagaimana implementasinya pada kehidupan ekonomi yang sudah menggobal sekarang ini?
Kita tahu bahwa fenomena globalisasi mempunyai berbagai bentuk, tergantung pada pandangan dan sikap suatu Negara dalam merespon fenomena tersebut. Salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, adalah pengalihan kekayaan alam suatu Negara ke Negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke Negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus “membeli jam kerja” bangsa lain. Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu “VOC (Verenigte Oostindische Companie) dengan baju baru”.
Implementasi sila ke-5 untuk menghadapi globalisasi dalam makna neo-colnialism atau “VOC-baju baru” itu adalah bagaimana kita memperhatikan dan memperjuangkan “jam kerja” bagi rakyat Indonesia sendiri, dengan cara meningkatkan kesempatan kerja melalui berbagai kebijakan dan strategi yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Sejalan dengan usaha meningkatkan “Neraca Jam Kerja” tersebut, kita juga harus mampu meningkatkan “nilai tambah” berbagai produk kita agar menjadi lebih tinggi dari “biaya tambah”; dengan ungkapan lain, “value added” harus lebih besar dari “added cost”. Hal itu dapat dicapai dengan peningkatan produktivitas dan kualitas sumberdaya manusia dengan mengembangkan, menerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam forum yang terhormat ini, saya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para tokoh dan cendekiawan di kampus-kampus serta di lembaga-lembaga kajian lain untuk secara serius merumuskan implementasi nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam lima silanya dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dalam konteks masa kini dan masa depan. Yang juga tidak kalah penting adalah peran para penyelenggara Negara dan pemerintahan untuk secara cerdas dan konsekuen serta konsisten menjabarkan implementasi nilai-nilai Pancasila tersebut dalam berbagai kebijakan yang dirumuskan dan program yang dilaksanakan. Hanya dengan cara demikian sajalah, Pancasila sebagai dasar Negara dan sebagai pandangan hidup akan dapat ‘diaktualisasikan’ lagi dalam kehidupan kita.
Memang, reaktualisasi Pancasila juga mencakup upaya yang serius dari seluruh komponen bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai sebuah visi yang menuntun perjalanan bangsa di masa datang sehingga memposisikan Pancasila menjadi solusi atas berbagai macam persoalan bangsa. Melalui reaktualisasi Pancasila, dasar negara itu akan ditempatkan dalam kesadaran baru, semangat baru dan paradigma baru dalam dinamika perubahan sosial politik masyarakat Indonesia.
Para hadirin yang saya hormati,
Oleh karena itu saya menyambut gembira upaya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akhir-akhir ini gencar menyosialisasikan kembali empat pilar kebangsaan yang fundamental: Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Keempat pilar itu sebenarnya telah lama dipancangkan ke dalam bumi pertiwi oleh para founding fathers kita di masa lalu. Akan tetapi, karena jaman terus berubah yang kadang berdampak pada terjadinya diskotinuitas memori sejarah, maka menyegarkan kembali empat pilar tersebut, sangat relevan dengan problematika bangsa saat ini. Sejalan dengan itu, upaya penyegaran kembali juga perlu dilengkapi dengan upaya mengaktualisasikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam keempat pilar kebangsaan tersebut.
Marilah kita jadikan momentum untuk memperkuat empat pilar kebangsaan itu melalui aktualisasi nilai-nilai Pancasila sebagai weltanschauung, yang dapat menjadi fondasi, perekat sekaligus payung kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian kita, seperti nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai permusyawaratan dan keadilan sosial, saya yakin bangsa ini akan dapat meraih kejayaan di masa depan. Nilai-nilai itu harus diinternalisasikan dalam sanubari bangsa sehingga Pancasila hidup dan berkembang di seluruh pelosok nusantara.
Aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus menjadi gerakan nasional yang terencana dengan baik sehingga tidak menjadi slogan politik yang tidak ada implementasinya. Saya yakin, meskipun kita berbeda suku, agama, adat istiadat dan afiliasi politik, kalau kita mau bekerja keras kita akan menjadi bangsa besar yang kuat dan maju di masa yang akan datang.
Melalui gerakan nasional reaktualisasi nilai-nilai Pancasila, bukan saja akan menghidupkan kembali memori publik tentang dasar negaranya tetapi juga akan menjadi inspirasi bagi para penyelenggara negara di tingkat pusat sampai di daerah dalam menjalankan roda pemerintahan yang telah diamanahkan rakyat melalui proses pemilihan langsung yang demokratis. Saya percaya, demokratisasi yang saat ini sedang bergulir dan proses reformasi di berbagai bidang yang sedang berlangsung akan lebih terarah manakala nilai-nilai Pancasila diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Demikian yang bisa saya sampaikan. Terimakasih atas perhatiannya.
Wassalamu ‘alaikum wr wb.
Jakarta 1 Juni 2011
Bacharuddin Jusuf Habibie

April 26, 2011

Love and Time


Once upon a time, there was an island where all the feelings lived: Happiness, Sadness, Knowledge, and all of the others, including Love. One day it was announced to the feelings that the island would sink, so all constructed boats and left. Except for Love.

Love was the only one who stayed. Love wanted to hold out until the last possible moment.

When the island had almost sunk, Love decided to ask for help.

Richness was passing by Love in a grand boat. Love said, 
"Richness, can you take me with you?"
Richness answered, "No, I can't. There is a lot of gold and silver in my boat. There is no place here for you."

Love decided to ask Vanity who was also passing by in a beautiful vessel. "Vanity, please help me!"
"I can't help you, Love. You are all wet and might damage my boat," Vanity answered.

Sadness was close by so Love asked, "Sadness, let me go with you."
"Oh . . . Love, I am so sad that I need to be by myself!"

Happiness passed by Love, too, but she was so happy that she did not even hear when Love called her. 

Suddenly, there was a voice, "Come, Love, I will take you." It was an elder. So blessed and overjoyed, Love even forgot to ask the elder where they were going. When they arrived at dry land, the elder went her own way. Realizing how much was owed the elder, 

Love asked Knowledge, another elder, "Who Helped me?"
"It was Time,

Sand and Stone


A story tells that two friends were walking through the desert. During some point of the journey they had an argument, and one friend slapped the other one in the face. The one who got slapped was hurt, but without saying anything, wrote in the sand: "TODAY MY BEST FRIEND SLAPPED ME IN THE FACE."

They kept on walking until they found an oasis, where they decided to take a bath. The one, who had been slapped, got stuck in the mire and started drowning, but the friend saved him. After the friend recovered from the near drowning, he wrote on a stone: "TODAY MY BEST FRIEND SAVED MY LIFE."

The friend who had slapped and saved his best friend asked him, "After I hurt you, you wrote in the sand and now, you write on a stone, why?"

The other friend replied: "When someone hurts us, we should write it down in sand where winds of forgiveness can erase it away. But, when someone does something good for us, we must engrave it in stone where no wind can ever erase it."

LEARN TO WRITE YOUR HURTS IN THE SAND, AND TO CARVE YOUR BENEFITS IN STONE

The Rose Within


A certain man planted a rose and watered it faithfully and before it blossomed, he examined it.

He saw the bud that would soon blossom, but noticed thorns upon the stem and he thought, "How can any beautiful flower come from a plant burdened with so many sharp thorns? Saddened by this thought, he neglected to water the rose, and just before it was ready to bloom... it died.

So it is with many people. Within every soul there is a rose. The God-like qualities planted in us at birth, grow amid the thorns of our faults. Many of us look at ourselves and see only the thorns, the defects.

We despair, thinking that nothing good can possibly come from us. We neglect to water the good within us, and eventually it dies. We never realize our potential.
Some people do not see the rose within themselves; someone else must show it to them. One of the greatest gifts a person can possess is to be able to reach past the thorns of another, and find the rose within them.

This is one of the characteristic of love... to look at a person, know their true faults and accepting that person into your life... all the while recognizing the nobility in their soul. Help others to realize they can overcome their faults. If we show them the "rose" within themselves, they will conquer their thorns. Only then will they blossom many times over.

from: klik

April 15, 2011

Qana'ah Kunci Kebahagiaan



Tidak dapat dipungkiri saat ini kita hidup dalam era modern yang lazim disebut Digital Life. Segala kebutuhan dan kepentingan hajat hidup hampir semua dapat dikerjakan hanya dengan menekan digit. Mulai dari kebutuhan primer seperti makan misalnya, dengan mudah kita dapat memasak nasi setelah beras dicuci lalu kita masukkan ke dalam Rice cooker hanya sekali tekan tombol cooking niscaya beberapa saat kemudian beraspun berubah menjadi nasi hangat yang siap dinikmati bersama keluarga. Contoh sederhana di atas menunjukkan bahwa kehidupan masa kini semakin canggih, teknologi membantu memudahkan pekerjaan sehari-hari manusia.

Cinta Sejati Seorang Ibu



Wanita itu sudah tua, namun semangat perjuangannya tetap menyala seperti wanita yang masih muda. Setiap tutur kata yang dikeluarkannya selalu menjadi pendorong dan bualan orang disekitarnya. Maklumlah, ia memang seorang penyair dua zaman, maka tidak kurang pula bercakap dalam bentuk syair. Al-Khansa bin Amru, demikianlah nama wanita itu. Dia merupakan wanita yang terkenal cantik dan pandai di kalangan orang Arab. Dia pernah bersyair mengenang kematian saudaranya yang bernama Sakhr :

Pemenang Kehidupan



Ditengah kebahagiaan. Tiba-tiba musibah datang memporakporandakan semua. Musibah menjadi terasa teramat berat karena kita sedang berbahagia. Biasanya ditengah kebahagiaan seperti itu kita lengah. Jika ada hal yang buruk kita benar-benar terhenyak dibuatnya. Sama sekali tidak kita sangka. Kebahagiaan mampu membuat diri kita mabuk kepayang. Kita tidak dalam keadaan sadar dan mawas diri dengan keadaan sekeliling kita karena kita merasakan kenikmatan yang tiada tara sehingga begitu tertimpa kepedihan membuat tubuh kita seolah terguncang hebat. Tanpa kita sadari terucap oleh kita. 'Ya Allah, kenapa ini terjadi pada diri ku? Aku tidak lalai, tapi aku tidak siap. Aku tidak melupakan diriMu, tetapi aku sedang berbahagia.'

PEREMPUAN (khususnya untuk para lelaki)



Dia yang diambil dari tulang rusuk. Jika Tuhan mempersatukan dua orang yang berlawanan sifatnya, maka itu akan menjadi saling melengkapi.

Dialah penolongmu yang sepadan, bukan sparing partner yang sepadan.

Ketika pertandingan dimulai, dia tidak berhadapan denganmu untuk melawanmu Tetapi dia akan berada bersamamu untuk berjaga-jaga di belakang saat engkau berada di depan atau segera mengembalikan bola ketika bola itu terlewat olehmu. Dialah yang akan menutupi kekuranganmu.

Kisah Bumi dan Langit



Adapun terjadinya peristiwa Israk dan Mikraj adalah kerana bumi merasa bangga dengan langit. Berkata dia kepada langit, “Hai langit, aku lebih baik dari kamu kerana Allah S.W.T. telah menghiaskan aku dengan berbagai-bagai negara, beberapa laut, sungai-sungai, tanam-tanaman, beberapa gunung dan lain-lain.”
Berkata langit, “Hai bumi, aku juga lebih elok dari kamu kerana matahari, bulan, bintang-bintang, beberapa falah, buruj, ‘arasy, kursi dan syurga ada padaku.”
Berkata bumi, “Hai langit, ditempatku ada rumah yang dikunjungi dan untuk bertawaf para nabi, para utusan dan arwah para wali dan solihin (orang-orang yang baik).”

April 11, 2011

Wallet Lost, Life is Meaningless


"Beep!" School's bell rang. Several minutes later high school students spread out of their classes. Three male students who had after-class-duty for today are still in the class.

Student1: "How if we cast lots to determine who does after-class-duty for today? Then the others can go home."
Student2: "I like that! How if we do that by using pieces of sheets in our wallet? Who has the most number of paper sheets, stays."
Student1: "Deal."

Live Happily Ever After♥


I found this article and I would like to share it with other as it's really helpful for most people.

FIVE SIMPLE RULES TO BE HAPPY.
Remember the five simple rules to be happy:
  1. Free your heart from hatred.
  2. Free your mind from worries.
  3. Live simply.
  4. Give more.
  5. Expect less.

They Say I'm Fat


I don't know what my fault is. I feel that these days I have been keeping my diet pretty tight. But how come this my dear cheek is still stretchy. And a lot of people who take a look at it want to pinch it. It makes me more resentful. It is resentful... resentful... resentful... Veeeery resentful. What is my fault? Weep... Weep... did the fault come from the descendant from my beloved father and mother that makes my cheek really puffed-up. I don't think so. They are not fat either.

Sleep without dream? Can't be! Prove it!


Kinds of dream
After examining for years (part-time), these are kinds of dream.
  1. Normal dream Well this is the normal dream, the most frequently appearing dream, both bad and good dreams. Usually the things you think before sleeping is the one that appears. - I'm sure everyone had this kind of dreams...
  2. Falling Dream! ANNOY Just slept for 1-2 minutes, suddenly there comes a TERRIFYING thing and surprising! Makes us wake up very suddenly with a body reflex motions! Feel very BAD but in a moment it becomes normal lah! Just go back to sleep (sometimes a following "earthquake" happens). - Nearly everybody had this, although it's not very common

April 5, 2011

The End


The sun was shining. Sadness painted all over her face—I could tell without any mirror; this was my feeling. It’s…it’s getting closer. One year from the moment. The cold. The darkness. The loneliness I’d never expected. Gazing my little garden through the window, tears and dropping since the words scratched my mind. Painful. Hurting me. Telling me to stop hoping. The the crying….it got louder. Oh, don’t you even dare to judge me! You don’t understand what I was dealing with! If you knew, you would’t have given me that kind of look. Sarcasm. Cynicism. Could you just keep your eyes closed and leave me alone!? Go somewhere else!
“Needy…?”
“My wish is still the same, Michael.”, smiled in blue-wiping my watery eyes. “Useless. Food, medicine…advices. Not a single one could save me. I’m dying. Then, in the name, you keep bothering me? If you are here because my parents told you to do so, just forget it. They couldn’t see this fact. Hah, what you call that? Childish? I think. You know: leukemia doesn’t go away like cold does. It kills people. I accept that. My parent’s don’t. Apparently, I’m the only one who has already grown up here…”

His eyes looked into mine. Michael. He then sat on my bed—covered well with a striped pattern bed sheet. Not saying a word.

“I refuse a lecture. As you could see—I’m fine.”
“He’s only my doctor, Needy”.
“Mm—mm—“ moving the right index finger, I rose my chin.” Perfectly ok. I’m strong. I don’t ask for help.”
“He could be wrong”
“Would you stop talking about that d**n doctor!? Get out of my room!”

Michael started to loose his silence. I could see his eyes like shining glasses. Crystal. Crying. I moved from being in front of his. Ok, that’s it! Michael, the door is open. Tissuses are in the kitchen!

“Needy, please……….don’t you be like this. There’s still hope for you. I…..i mean… he’s just a human being. People makes mistakes. We….we could check once more. Maybe he’s only a clumsy man with a suite---doctor’s, but not his. Maybe they ---the authoirities which give doctor the license to operat—never admite him. He’s scumbag, acting like a skillful well-trained healt expert. I mean, please…you shouldn’t, you mustn’t-----“
“ENOUGH!”
You stop this! I didn’t start a thing!”
“Oh, yeah? Sitting there, telling me ‘he’s a human being, People makes mistakes, we could check once more. Maybe he’s wrong’, that’s what you called ‘didn’t start a thing?’ what odd definition, Michael! As a lecturer, languages subject…do I need to reminds you?----your saying is absurd for me. Absurd! You, THIS LIFE, GOD, MY HAPPINESS…None of it makes any sense! NON SENSE!!” I reached the vase on the table. Throwing it down to the floor. Michael screamed. I laughed….. and began walking to my table. Cosmetics and perfume were next. Clothes. Wardrobe. Bed sheet. I hate stripes! I’m not prisoner! I’m Needy, a girl, 17 years old, YELLING, SHOUTING TO THIS WORLD: WHERE’S THE JUSTICE? WHY GOD GAVE ME THIS…LEUKIMIA? I’M NOT READY TO DIE, ALLAH! PICK SOMEONE ELSE! NOT ME!”


The world was grey. I embraced my knees. Michael was walking to me, squatting next to me on the floor. Hugged me. Saying his lecture again. Everything is okay. You will be just fine. Hah, I cynically smiled. I was OK. I didn’t need that suggestion. I was fine. Perfectly in good shape.

“Let it out, Needy….Let it out….”
WHAT?!
******

Since there, they had become so busy. My parents. Michael. Took me to another doctor, looked for a chance I knew I didn’t have. Sssh…don’t tell them about it. They would be angry. You know: they’ve spent a lot of money and time to take care of me. The medicine. Forced me to get special therapy. Kept telling me the lie: I could live longer. That my illness was nothing. I had capability to go against it. To fight it. To be the winner of this grey competition. That’s fine. I was as strong as people around me expected me to be. LEUKIMIA? Place of cake! So…STOP HELPING ME! STOP FEELING SORRY FOR ME!

“Your life is what you think it. You don’t need to carry a big and heavy burden on your heart, have to keep it. Just try to relax and receive this faith. You know? If you do it, you’d be better….” The physiatrist said. HAH, what did she know about “being better”? I hate the kind of person who gave the impression: hey, would you share your story? I have the solution. I’m your solution. They didn’t know my feelings! I was STRONG—I said. Why they didn’t believe me? Look! I laugh! I smile! No more tears on my cheeks! Instead of sitting beside me, told me the things I should and shouldn’t do, why don’t you go after your carrier and love. You hear that? If you did, why you didn’t tell it to my parents? While me…what for!? Ignore me! The angel of the death soon picked me up anyway. Not you. Not you. NOT EVEN YOU! HAPPY!?
“I bring you organics, Needy. I got them from Puncak. It’s good for the body,” Michael entered the door. Without knocking as usual. Closest friend. A person whom I wished to accompany me. Smiling. A carrying the healthy meals. I stood still. Sucking fresh morning air into my lungs. Then Michael was walking to me. In silence. She, to my surprise, didn’t bring the bowl of vegetables. She’s just put it on the table next to my bed.
“Everybody dies, Needy,” I was putting my hands to cover both ears.. but Michael removed them. Ask me to listen to him just this time. He bagged. I smiled, let him did he wanted. What ever.
“You, your parents, me---all human being… we all shall meet death, Needy. All God’s creatures. For the last time: stop acting like ‘this is only about your problem’. All of us shall end, Needy. The difference between you and me: the doctors have already predicted yours. You know something? If they are that good, maybe they know when they die. Maybe they can predict mine and others also. Sounds like God. You believe that?”
“Is it so hard to seal your lips, Michael? This is not my choice . I didn’t choose this! This disease---this LEUKIMIA! OK, don’t push me to talk further! I’m not weak!”
“You are not weak but you are a fool! I just realized that. You believe human prediction? And so, you stop your life? Acting like a girl without brain? Lauging! Put your left eyebrow hinger than the right, keep telling you don’t need help, blaming God for your sickness, for your death. WE ALL DIE NEEDY! NO MATTER WHAT! Can you understand that!? So, if you haven’t become a dead body, just act like a living normal person! It’s not about what our God decides to happen, but it’s about what God wants us to do, Needy! And I can assure you: you and your foolishness won’t get nothing from ‘I’M OK! I’M STRONG! WHY GOD GAVE ME THE DIDEASE’! But, if you are happy running your life like this, that’s fine! I don’t care for you anymore!”

Michael took the bowl and ate the vegetables alone, on my bed. I closed my face, hardly couldn’t swallowed my own saliva.

March 21, 2011

Breaking Up!

Longing

You always doing the same mistake.
You make me felt that I’m the wrong people in this world.
Until I’m tired, I’m criying, I’m bored with your mistake.
Again and again I TRIED, Again and again YOU LIED, Again and again I CRIED and I DON’T KNOW WHY! :(



Sadness

Cause your mistake, I hate you boy but I’m still stay here, beside you.
I’m still loving, not letting you go with someone else who love you.
I hate you when you make me anger, make feel down, make me feel alone, your doing, your say, cause isn’t same with the real.
But I’m still felt that you’re the truth for me. I don’t know why but it’s my feelings -_-



Anger

I’m gonna get a stronger. It’s better to be separated, after all I knew that someday you and I would have to go through this situation. I guess you would have done like this rather that, it’s better to be me right now, I was deeply in love and I knew I’m glad I throught about this. So I’m okay, I trusted you so I gave you my everything. You threw it away, I’m gonna be okay, I’ll be okay BABY WITHOUT YOU..

Listen, everything happens for areason saying that this was the first time meeting another guy. Stop saying this that not make sense, obviously what you said is to cover it, so just turn around. It really hurts me to look at you, I WANT TO STOP!

Everyday, I was being fooled, I didn’t know what kind of person you were. Now I know, you don’t love me. So now, I’m gonna be okay, I’ll be okay BABY WITHOUT YOU. Why did you do this to me? Why did you do this to me, made me cry.

You threw away everything we had, was worth it everything we did? The times we were together, the times were able to be together. Aren’t you even sorry? Doesn’t even matter to you? Right now, are you okay without me?



Loneliness

Easy come, easy go. That’s just how you live on. Take, take, take it all but you never give. To give me all your love, is all I ever I asked cause what you don’t understand is. You know I’d do anything for you. I would go through all this pain, take a bullet straight through my brain. Yes I would die for ya baby, but you won’t do the same *speak*. If my body was on fire..you’d watch me burn down in flames. You said you love me oh you’re a liar cause you never ever, ever did baby!

But darling, I’m still waiting you here with my old heart who love you until whenever, I don’t know why I do it for you..



Memory

I don’t need anyone else, it’s only you. When you ask again, it’s only you. Even if you already have another love. I can’t let you go. I can’t turn back around. The moment my eyes began to burn. The moment you captured my heart. I have no regrets, I choose you. That’s right, it’s you~

Whatever anyone says. It doesn’t matter to me. Whoever curses me, I’ll only look at you. Even when I’m born again, it’s still only you. Even as time goes by. When you tell me you love me, I have thousands and millions of times. Even when my heart sets on fire, my dry lips wear out. Even when I’m born again, it’s still only you. Even as time goes by…only for you~

I don’t need any words, it’s only you. It’s too late but for me it’s just you. I know our love is wrong, I can’t give up! I can’t let you go oh no…

My lips, cold as can be are even more blue. I cry out to find your warmth. Even though I call for you and there’s no reply. I’ll wait for you~

For me, it’s you, it’s you. Why don’t you know?



Feel lost

My heart is still looking at you. I don’t know why I am like this but I can’t stop. My heart won’t listen. Why, why? I can’t stop it now. I don’t know why I’m like this. I’m still into you. My heart is still beating for you~

Can you feel my heartbeat? The heart that you stepped all over and left, is still beating and it is beating for you. No matter how hard I try to forget. No matter how many new people I meet. Why do I keep thinking of only you when I turn around? I don’t want to do this anymore. I want to stop..

No matter how many times I try and try to stop myself, it is no use my heart is broken, why? Why do I keep doing such foolish things? I know it in my head, but why is my heart rebelling? I am holding into you and can’t let go, it still feels like you are next to me. I can’t believe in farewell…

No matter who I meet. I can’t open up one part of my heart, and I keep your place empty. There is no reason for you to come back but why do I keep thinking that you might come back? Why isn’t my heart listening?

Listen to my heartbeat, it’s beating and waiting for you. Don’t I know that it’s over? I don’t understand why I am like this. My heart is still beating and waiting for you. It still hurts thinking of you. I think of you everytime my heartbeats~

I have to forget, I have to forget in order to live. I have to erase it, if I don’t, I will die. Stop trying to get him back. He ain’t coming. He’s gone, gotta be moving on! He left, he won’t come back, he doesn’t think of you. He doesn’t know that I am waiting for him. He’s doing well. He already forgot about me, totally erase me. Why I can’t do that? My heart is beating. Faster and faster…



Move On!

I’ll be back. You ‘re going to come back to me. That’s when I’ll be back again. There’s nobody else in this world that can love you more than I do~

Why are you suddenly being like this, what do you want me to do? How can you being like this to me? I believed it when you said we’d be forever. You promised that we’d never change, that we were a match made in heaven, you said that we were right for each other.

I’ll be back, you’re going to come back to me. That’s when I’ll be back again. There’s nobody else in this world that we can love you more than I do.. you’ll be back, that why I’m letting you go. I know that you can’t live without me.. :p

We can’t break apart, you must be misunderstanding something… this is just a minor concern that can happen to anyone, wake up! Think about it again, but no matter what I say. You already wo’t listen to me, it comes back as an echo.

Listen Baby boy, Fine, I’ll be back again. Like a girl, I’ll let you go. I won’t bother you anymore, I’ll just quietly stay behind you as if I’m dead. I’ll stand and watch over you. You won’t even know that I’m there. I’ll stay far, far away, until you completely forget my existence..

But you better know that I’m not giving you away. Will I ever stop waiting no way. It’ll be the same in my world. I’m your girl, you’re my boy :) I may be sending you away for you now but I know that you’ll be back. So don’t worry, when it’s time for you to fall, I’ll be back :)
Cute Spinning Flower Pink